Kesalahan Umum Reviewer Saat Menilai RPS dan Cara Menghindarinya agar proses evaluasi berjalan objektif dan konstruktif


Kesalahan Umum Reviewer Saat Menilai RPS dan Cara Menghindarinya agar proses evaluasi berjalan objektif dan konstruktif

Dalam proses penjaminan mutu dan akreditasi, Rencana Pembelajaran Semester (RPS) sering menjadi objek penilaian reviewer internal maupun asesor eksternal. Namun, tidak jarang terjadi perbedaan persepsi antara dosen penyusun RPS dan reviewer, yang berujung pada catatan atau rekomendasi perbaikan.

Artikel ini membahas kesalahan umum yang sering terjadi saat reviewer menilai RPS, sekaligus memberikan cara menghindarinya agar proses evaluasi berjalan objektif dan konstruktif.



1. Reviewer Hanya Fokus pada Format, Bukan Substansi

Kesalahan yang sering terjadi adalah reviewer terlalu menitikberatkan pada:

      • Tata letak tabel
      • Redaksi kalimat
      • Keseragaman format

Namun mengabaikan substansi akademik, seperti keterkaitan CPL–CPMK–Sub-CPMK.

Cara Menghindari:
Reviewer perlu menilai RPS secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi tampilan, tetapi juga kesesuaian capaian pembelajaran dan penilaian.


2. Tidak Memeriksa Konsistensi CPL–CPMK–Penilaian

Beberapa reviewer menilai RPS secara parsial tanpa mengecek:

      • Apakah CPMK diturunkan dari CPL
      • Apakah metode pembelajaran mendukung CPMK
      • Apakah penilaian sesuai dengan capaian

Cara Menghindari:
Gunakan pendekatan Outcome Based Education (OBE) sebagai kerangka utama penilaian RPS.


3. Menggunakan Standar Pribadi Reviewer

Kesalahan lain adalah reviewer menilai RPS berdasarkan preferensi pribadi, bukan standar institusi atau kurikulum yang berlaku.

Dampak:

      • RPS dinilai tidak konsisten
      • Dosen bingung terhadap rekomendasi reviewer

Cara Menghindari:
Reviewer harus mengacu pada:

      • Dokumen kurikulum resmi
      • Pedoman penyusunan RPS institusi
      • Standar penjaminan mutu internal


4. Mengabaikan Konteks Mata Kuliah

Setiap mata kuliah memiliki karakteristik berbeda. Kesalahan terjadi ketika reviewer:

      • Menyamakan semua mata kuliah
      • Mengharuskan metode atau penilaian yang tidak relevan

Cara Menghindari:
Reviewer perlu memahami konteks mata kuliah, tingkat mahasiswa, dan capaian pembelajaran yang dituju.


5. Tidak Memeriksa Bukti Implementasi RPS

Penilaian RPS sering berhenti pada dokumen, tanpa melihat:

      • Apakah RPS diimplementasikan
      • Apakah metode dan penilaian dijalankan

Padahal, dalam akreditasi, implementasi RPS sama pentingnya dengan dokumen RPS.

Cara Menghindari:
Reviewer perlu mengaitkan RPS dengan bukti pelaksanaan pembelajaran.


6. Kurangnya Pemahaman OBE oleh Reviewer

OBE menuntut penilaian berbasis capaian, bukan sekadar materi. Jika reviewer belum memahami OBE dengan baik, penilaian RPS bisa menjadi tidak tepat.

Cara Menghindari:
Institusi perlu memastikan reviewer memiliki pemahaman OBE yang memadai melalui pelatihan dan penyamaan persepsi.


Kesimpulan

Penilaian RPS oleh reviewer memiliki peran penting dalam menjaga mutu pembelajaran. Kesalahan dalam proses review dapat berdampak pada kualitas RPS dan kebingungan dosen. Dengan memahami kesalahan umum dan cara menghindarinya, proses penilaian RPS dapat berjalan lebih objektif, adil, dan berorientasi pada peningkatan mutu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar